DIBEKASI.ID – Kartosoewirjo: Peran Intelektual Muda dan Kontribusinya sebagai Pelopor Sumpah Pemuda 1928 | Peringatan Hari
Sumpah Pemuda yang jatuh setiap tanggal 28 Oktober selalu menjadi momentum penting bagi bangsa Indonesia untuk merenungkan kembali perjalanan panjang persatuan nasional. Di balik megahnya ikrar kebangsaan yang menyatukan tekad satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa Indonesia, terdapat jejak-jejak sejarah pergerakan kaum muda yang kaya dan beragam. Salah satu figur historis yang memegang peran penting pada masa-masa awal kebangkitan nasional namun seringkali luput dari sorotan arus utama adalah Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo—atau yang lebih dikenal sebagai S.M. Kartosoewirjo.
Dalam lembaran sejarah pergerakan kemerdekaan, rekam jejak masa muda Kartosoewirjo mencatat kontribusi nyata sebagai salah satu dari 13 tokoh pelopor dan pencetus lahirnya Sumpah Pemuda pada tahun 1928. Memahami sejarah hidupnya pada fase tersebut menuntut objektivitas intelektual, melihat bagaimana dinamika pemikiran, idealisme, serta pergulatan politik kaum terpelajar bumiputera dibentuk pada era kolonial Hindia Belanda.

Akar Intelektual dan Masa Muda: Dari Bojonegoro hingga Batavia
Lahir dan dibesarkan pada era kolonial, Kartosoewirjo menempa kecerdasannya melalui sistem pendidikan yang ketat pada masanya. Pada usia delapan tahun, ia mengawali pendidikan formal di Inlandsche School der Tweede Klasse (ISTK), sebuah sekolah dasar kelas dua yang diperuntukkan bagi kalangan bumiputera. Keunggulan intelektual yang dimilikinya membuka jalan baginya untuk melanjutkan pendidikan ke Europeesche Lagere School (ELS) di Bojonegoro, sebuah institusi pendidikan bergengsi khusus anak-anak Eropa dan segelintir pribumi pilihan yang memiliki kapasitas akademik luar biasa.
Di Bojonegoro, cakrawala berpikir Kartosoewirjo mulai terbuka lebar ketika ia bertemu dan dibimbing oleh guru rohaninya, Notodiharjo. Sebagai tokoh Islam modern yang sealur dengan pemikiran Muhammadiyah, Notodiharjo menanamkan fondasi pemikiran Islam modern yang rasional dan progresif ke dalam alam pikiran muda Kartosoewirjo. Pengaruh ini membentuk karakter keagamaan yang kuat, yang kelak menjadi kompas utama dalam perjalanan intelektualnya.
Selepas merampungkan studinya di ELS pada tahun 1923, Kartosoewirjo sempat melanjutkan pendidikan tinggi kedokteran di Nederlandsche Indische Artsen School (NIAS) di Surabaya. Namun, keterlibatannya yang semakin intensif dalam kancah pergerakan politik anti-kolonial membuat posisinya di NIAS terancam hingga akhirnya ia meninggalkan institusi tersebut pada tahun 1927.
Di Bawah Asuhan Sang Mentor: Berguru kepada H.O.S. Tjokroaminoto
Titik balik penting dalam fase pergerakan muda Kartosoewirjo terjadi ketika ia hijrah dan tinggal di kediaman tokoh sentral pergerakan nasional, H.O.S. Tjokroaminoto, di Surabaya. Rumah sang pemimpin Sarekat Islam tersebut berfungsi sebagai kawah candradimuka bagi para pemuda revolusioner masa itu.
Di rumah Tjokroaminoto, Kartosoewirjo mendapatkan ruang untuk mengasah kemampuan intelektual dan kepemimpinannya. Berkat kecerdasan, ketekunan, dan loyalitasnya, ia dipercaya untuk diangkat sebagai sekretaris pribadi Tjokroaminoto. Sang mentor membimbingnya dalam kancah politik pergerakan, sekaligus memperdalam pemahaman ideologis keislaman dan nasionalisme terhadap kolonialisme.
Karier politik organisasinya melesat ketika ia aktif dalam perhimpunan pemuda Jong Java—bahkan sempat dipercaya memimpin cabang Surabaya—serta terlibat dalam Jong Islamieten Bond (JIB). Melalui hasil Kongres PSII (Partai Sarekat Islam Indonesia) pada Desember 1927, Kartosoewirjo resmi diangkat menjadi Sekretaris Umum PSII, sebuah posisi strategis yang membawanya hijrah ke pusat episentrum pergerakan nasional di Jakarta (Batavia).
Peran Sentral dalam Kongres Pemuda Indonesia Kedua 1928
Kepindahannya ke Batavia menempatkan Kartosoewirjo di garda terdepan dinamika politik pemuda bumiputera. Ketika Kongres Pemuda Indonesia Kedua digagas dan diselenggarakan pada Oktober 1928, Kartosoewirjo hadir sebagai salah satu aktor penting dan tercatat secara historis sebagai salah satu dari 13 tokoh pelopor lahirnya Sumpah Pemuda.
Dalam sejarah perumusan ikrar tersebut, Kongres Pemuda Kedua digerakkan oleh tokoh-tokoh dari berbagai latar belakang suku, agama, dan haluan yang melebur menjadi satu tekad melawan kolonialisme. Bersama tokoh-tokoh besar lainnya, kontribusi para pelopor ini menjadi fondasi kokoh persatuan bangsa:
Kehadiran para tokoh ini membuktikan bahwa Sumpah Pemuda 1928 adalah hasil kolektif dari berbagai elemen pemuda nusantara yang menanggalkan ego golongan demi cita-cita besar kemerdekaan. Peran S.M. Kartosoewirjo dalam barisan para pelopor ini menegaskan sumbangsih intelektualnya pada fase awal pembentukan kesadaran kebangsaan Indonesia.
Hasil Keputusan Kongres Sumpah Pemuda 1928
Sebagai puncak dari rangkaian sidang Kongres Pemuda Indonesia Kedua yang diselenggarakan pada tanggal 27–28 Oktober 1928 di Batavia, para pemuda merumuskan sebuah keputusan monumental yang dikenal sebagai
Sumpah Pemuda. Berikut adalah naskah asli keputusan kongres tersebut:
PERTAMA:
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjandji tumpah darah jang satoe, tana Indonesia.
KEDUA:
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjandji bangsa jang satoe, bangsa Indonesia.
KETIGA:
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjandji mendjundjung bahasa persatoean, bahasa Indonesia.
Keputusan bersejarah ini tidak hanya menjadi tonggak utama berdirinya kesadaran nasional yang menyatukan seluruh suku, ras, dan golongan di Nusantara, tetapi juga menjadi fondasi kultural dan politik bagi berdirinya Republik Indonesia.
Sumber rujukan historis dan data penunjang diadaptasi dari catatan artikel refleksi sejarah deJurnal.com.
Saat ini belum ada komentar